Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Parigi Moutong

Mantan Koordinator Tagana Kritik Program TMS di Parimo, Dinilai Abaikan Kelembagaan

×

Mantan Koordinator Tagana Kritik Program TMS di Parimo, Dinilai Abaikan Kelembagaan

Sebarkan artikel ini
Perekrutan Tagana Parimo tahun 2008.

Parimo, Updatesulawesi – Program Tagana Masuk Sekolah (TMS) yang mulai digencarkan di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) menuai kritik.

Muhammad Tasrif AR, anggota Tagana angkatan 2008 sekaligus mantan Koordinator Tagana Parimo, menilai pelaksanaan program tersebut tidak melibatkan Tagana secara kelembagaan.

“Seharusnya kegiatan seperti TMS ini menjadi ruang aktualisasi bagi Tagana sebagai relawan kebencanaan. Namun kenyataannya, justru hanya pejabat Dinas Sosial yang turun langsung ke sekolah-sekolah tanpa melibatkan struktur resmi Tagana,” ujar Tasrif, Kamis (28/8).

Baca berita lainnya :  Mardin Usman Tekankan Penguatan Struktur dan Program Pro Rakyat pada MUSDA VI PAN Parigi Moutong 2025

Menurutnya, hal ini menyalahi semangat awal pembentukan Tagana sebagai garda terdepan penanggulangan bencana.

Terlebih, keberadaan Tagana sudah memiliki dasar hukum jelas melalui Permensos Nomor 28 Tahun 2012 yang mengatur hak, kewajiban, serta jenjang keanggotaan.

“Kalau pola seperti ini terus dibiarkan, Tagana hanya akan diposisikan sebagai nama tanpa fungsi. Padahal kita punya relawan yang sudah terlatih sejak lama, bahkan terbagi dalam jenjang Muda dan Madya, lengkap dengan kemampuan simulasi, evakuasi, hingga pertolongan pertama,sedangkan jenjang utama Parimo menunggu kuota dari Kemensos” tegasnya.

Baca berita lainnya :  Sekum KONI Parigi Moutong Beri Motivasi ke Atlet Saat Buka Seleksi Taekwondo di Porkab VI 2025

Tasrif juga menilai, program TMS justru akan lebih efektif jika dijalankan dengan sinergi penuh antara Dinas Sosial dan Tagana.

Selain menjaga marwah organisasi, hal itu juga menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi relawan yang selama ini berada di lapangan saat bencana terjadi.

“Tagana bukan sekadar atribut seragam biru. Ini soal profesionalitas, kesiapan, dan pengabdian. Kalau tidak dilibatkan secara utuh, berarti pemerintah daerah mengabaikan potensi besar yang dimiliki Tagana Parimo,” tambahnya.

Baca berita lainnya :  DPRD Parigi Moutong Gelar RDP IPR Buranga,Hadirkan DiskopUKM

Ia pun mendesak Pemkab Parigi Moutong untuk mengevaluasi mekanisme TMS agar sesuai dengan pedoman nasional.

“Kalau tujuannya membentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), maka libatkanlah orang-orang yang memang sudah berpengalaman di bidang kebencanaan. Tagana itu sudah terbukti sejak belasan tahun lalu,” pungkasnya.

Total Views: 203
Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *