Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BencanaBerita

Puncak Kemarau Diprediksi Agustus, BPBD Dorong Langkah Mitigasi Dini

×

Puncak Kemarau Diprediksi Agustus, BPBD Dorong Langkah Mitigasi Dini

Sebarkan artikel ini
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi El Nino 2026 di ruang Crisis Center BPBD. (Foto: MRP)

Parimo, Updatesulawesi.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi El Nino 2026 di ruang Crisis Center BPBD, Selasa (31/03). Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak perubahan iklim.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai S.T, menjelaskan bahwa kondisi iklim tahun 2026 masih dipengaruhi dinamika global seperti ENSO dan IOD yang perlu diantisipasi sejak dini.

Dalam paparannya, Rivai menguraikan pola musim yang akan terjadi di wilayah Parigi Moutong. Ia menyebutkan bahwa periode Maret hingga Mei masih berada dalam fase musim hujan, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Baca berita lainnya :  BMKG Keluarkan Rekomendasi Darurat Hadapi Cuaca Ekstrem di Parigi Moutong

“Curah hujan masih relatif tinggi pada periode ini, sehingga aktivitas masyarakat perlu menyesuaikan dengan kondisi cuaca,” ujarnya.

Memasuki Juni hingga Juli, Parigi Moutong diperkirakan mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau. Sementara itu, puncak musim kemarau secara umum diprediksi terjadi pada bulan Agustus, dan di sejumlah wilayah utara berpotensi bergeser hingga September.

Rivai juga menyoroti adanya perbedaan karakteristik iklim antarwilayah di Parigi Moutong. Daerah seperti Bolano, Lambunu, Taopa hingga Moutong disebut memiliki durasi musim kemarau yang lebih panjang dibanding wilayah lainnya.

“Secara umum, durasi kemarau di Parigi Moutong berkisar antara satu hingga lima bulan. Namun di wilayah utara, durasinya bisa lebih panjang,” jelasnya.

Baca berita lainnya :  Kepanikan bank mereda di Wall Street. Selanjutnya: Kepanikan Fed

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kondisi ENSO diprediksi berada pada fase netral hingga pertengahan tahun 2026, sebelum berpotensi bertransisi menuju El Nino lemah pada semester kedua. Kondisi ini berpeluang menurunkan curah hujan secara bertahap di sejumlah wilayah.

Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan tetap berada pada kondisi netral, sehingga dalam waktu dekat belum memberikan pengaruh signifikan terhadap pola hujan.

Dalam rakor tersebut, BPBD menekankan pentingnya langkah mitigasi lintas sektor. Di sektor pertanian, misalnya, diperlukan penyesuaian kalender tanam dan penggunaan air yang lebih efisien. Di sektor kehutanan, kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga harus ditingkatkan.

Baca berita lainnya :  Tekan Risiko Bencana, Penanaman Mangrove Jadi Solusi Berkelanjutan Wilayah Pesisir

“Langkah-langkah mitigasi harus dilakukan sejak sekarang, termasuk kesiapan sumber daya air dan pengendalian risiko kebakaran,” tegas Rivai.

Tak hanya itu, BPBD juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Upaya yang perlu dilakukan antara lain penyediaan air bersih, pemantauan kualitas udara, serta peningkatan kesiapan layanan kesehatan.

Rivai menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi potensi El Nino sangat bergantung pada sinergi antarinstansi dan peran aktif masyarakat.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar dampak El Nino 2026 bisa diminimalkan,” pungkasnya.

Total Views: 53
Example 728x90
Penulis: NurfitaEditor: Bintang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *