banner 728x250

Dari Keresahan Jadi Gerakan: Upaya Mencetak Jurnalis Muda di Tengah Serbuan Hoaks

Ely leu saat memberikan pelatihan jurnalistik kepada peserta kegiatan.(Foto: Wawa)

Parimo, Updatesulawesi.id – Di tengah derasnya arus informasi media sosial yang serba cepat dan singkat, dua media lokal, Zenta Inovasi dan Theopini.id, memilih menempuh jalan berbeda. Keduanya menghadirkan ruang belajar jurnalistik bagi generasi muda, sebagai upaya melawan hoaks sekaligus menumbuhkan kembali budaya membaca informasi secara utuh.

Bagi Jurnalis Zenta Inovasi, Ely Leu, program ini bukan sekadar pelatihan menulis berita. Kegiatan tersebut lahir dari keresahan panjang yang ia rasakan bersama rekan-rekannya di dunia jurnalistik.

banner 728x90

“Ide ini sebenarnya sudah kami rintis sekitar satu tahun lalu. Ada banyak kendala hingga akhirnya baru bisa terlaksana sekarang,” tutur Ely saat ditemui di sela pelatihan jurnalistik di Aula DPKAP2KB, Jumat (06/02).

Menurut Ely, perubahan pola konsumsi informasi generasi muda menjadi tantangan serius. Ia melihat semakin banyak anak muda yang terbiasa menerima informasi instan dari media sosial tanpa memeriksa kebenarannya.

Baca berita lainnya :  Tes Kemampuan Akademik (TKA) Hadir sebagai Wajah Baru Pengukuran Prestasi Siswa di Parigi Moutong

Fenomena itu, kata dia, tidak hanya memicu penyebaran hoaks, tetapi juga perlahan menciptakan kemiskinan informasi.

“Sekarang banyak orang lebih percaya potongan informasi singkat di media sosial dibanding membaca berita secara utuh di media arus utama. Padahal, informasi yang tidak lengkap sering kali menimbulkan pemahaman yang keliru,” ungkapnya.

Kegelisahan tersebut kemudian mendorong Ely dan rekan-rekannya untuk bergerak. Mereka tidak ingin hanya mengkritik kondisi, tetapi juga menghadirkan solusi melalui pendidikan jurnalistik bagi generasi muda.

Di sisi lain, Ely juga menyadari dunia pers tengah menghadapi tantangan regenerasi. Banyak perusahaan media kekurangan sumber daya manusia, sementara jurnalis yang saat ini aktif tidak akan selamanya bertahan di profesi tersebut.

“Kalau tidak mulai dipersiapkan sekarang, siapa yang akan melanjutkan kerja-kerja jurnalistik ke depan?” ujarnya.

Langkah kecil itu mulai diwujudkan pada Kamis, 5 Februari 2026, melalui pelatihan jurnalistik di SMK Negeri 1 Toribulo. Kegiatan kemudian berlanjut pada sore hari bersama Generasi Pendidik Muda yang melibatkan Karang Taruna. Menariknya, seluruh peserta merupakan anak-anak muda perempuan yang menunjukkan minat besar terhadap dunia jurnalistik.

Baca berita lainnya :  Tekan Risiko Bencana, Penanaman Mangrove Jadi Solusi Berkelanjutan Wilayah Pesisir

Semangat yang sama kembali terlihat saat pelatihan digelar di Aula DPKAP2KB bersama Forum GenRe. Para peserta terdiri dari remaja yang masih duduk di bangku sekolah hingga lulusan baru yang ingin mengembangkan kemampuan menulis dan memahami dunia media.

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya menerima teori. Mereka dilatih memahami teknik wawancara, mengenali unsur berita, hingga mempraktikkan penulisan straight news.

Bahkan, setiap peserta diwajibkan menghasilkan karya jurnalistik. Hasilnya mulai terlihat. Sejumlah tulisan peserta dari pelatihan sebelumnya telah dipublikasikan di Theopini.id, Zenta Inovasi, serta beberapa media online lainnya.

Bagi Ely, publikasi karya peserta menjadi momen penting yang mampu membangun kepercayaan diri sekaligus memantik semangat belajar.

Baca berita lainnya :  125 Satuan Pendidikan di Parigi Moutong Masih Dipimpin Plt Kepala Sekolah, Disdikbud Pastikan Definitif Januari 2026

“Ketika tulisan mereka benar-benar dimuat di media, mereka bisa melihat sendiri perkembangan kemampuan menulisnya. Itu menjadi motivasi besar bagi mereka,” katanya.

Proses pendampingan pun tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Para peserta tetap didorong menulis secara mandiri ketika memiliki kegiatan di lingkungan mereka. Jika mengalami kesulitan, mereka dapat berdiskusi melalui grup pendampingan daring yang telah disiapkan.

Ely menegaskan, program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan. Meski kemungkinan akan dijeda sementara selama bulan Ramadan, pihaknya telah menyiapkan rencana untuk memperluas pelatihan ke sekolah-sekolah lain setelah bulan suci berakhir.

Baginya, menanamkan literasi jurnalistik kepada generasi muda bukan sekadar mengajarkan cara menulis berita, tetapi juga membangun cara berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap informasi.

“Harapannya, mereka tidak hanya menjadi pembaca yang cerdas, tetapi juga bisa menjadi penyampai informasi yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Total Views: 50
Penulis: FitaEditor: Gifar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!