
Parimo,Updatesulawesi – Kabupaten Parigi Moutong semakin mengukuhkan posisinya sebagai sentra durian unggulan di Sulawesi Tengah. Dari total 3.600 hektare lahan durian yang telah teregistrasi untuk ekspor, hampir 80 persen berada di wilayah ini.
Kondisi tersebut menjadikan Parigi Moutong sebagai ujung tombak ekspor durian Indonesia ke pasar China.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Sulawesi Tengah, Nelson Metubun, menjelaskan bahwa angka tersebut mencerminkan lompatan besar dibandingkan tahun 2022, di mana saat itu lahan teregistrasi baru mencapai 260 hektare dan semuanya berlokasi di Parigi Moutong.
“Pencapaian ini sudah jauh melampaui standar minimal lahan teregistrasi yang disyaratkan untuk ekspor ke China. Ini adalah hasil kerja keras kolektif antara Dinas TPH Provinsi, pemerintah kabupaten, dan Kementerian Pertanian,” ungkap Nelson saat ditemui di Parigi, Rabu (04/06).
Dari total 3.600 hektare lahan yang terdaftar, penyebarannya meliputi lima kabupaten,Parigi Moutong, Poso, Sigi, dan Tolitoli.
Namun, Parigi Moutong tetap menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sekitar 80 persen dari total lahan tersebut.
Selain sertifikasi lahan, kesiapan ekspor juga didukung dengan pembangunan fasilitas pengepakan atau packing house. Pada 2024, jumlah packing house yang terdaftar secara nasional hanya lima unit.
Kini, jumlah tersebut meningkat menjadi sembilan hingga sebelas unit, yang tersebar di Pulau Jawa, Bali, dan Sulawesi Tengah.
“Satu unit ada di Jawa, satu lagi di Bali, dan sisanya di Sulawesi Tengah. Alhamdulillah, berbagai upaya yang telah dilakukan mulai menunjukkan hasil positif,” ujar Nelson.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam proses panjang membuka akses ekspor durian, khususnya dari wilayah Parigi Moutong.
“Ini adalah perjuangan panjang yang penuh tantangan, baik dari sisi tenaga maupun biaya. Kesempatan ini harus dimaksimalkan sebaik mungkin,” tambahnya.















