Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KendariKriminal

Kasus Asusila Anak di Kendari Oleh Oknum, Korban Alami Depresi dan Ketakutan Ekstrem

×

Kasus Asusila Anak di Kendari Oleh Oknum, Korban Alami Depresi dan Ketakutan Ekstrem

Sebarkan artikel ini
(Foto: Gambar Ilustrasi AI Generated)

Kendari,Updatesulawesi.id – Dampak dugaan kekerasan seksual terhadap anak kembali menyisakan luka serius. Seorang siswi sekolah dasar berinisial AKS (12) dilaporkan mengalami depresi berat setelah diduga menjadi korban perbuatan asusila oleh oknum aparat di wilayah Kodim 1417/Kendari.

Kondisi korban disebut kian memprihatinkan. Ia lebih banyak mengurung diri di dalam kamar, menolak berinteraksi, bahkan kerap melukai dirinya sendiri dengan cara mencakar tubuhnya. Rasa takut yang mendalam membuat korban sering menangis histeris, terutama saat berada sendirian.

Baca berita lainnya :  Tragis di Empang Malakosa: Duel Parang-Badik Renggut Nyawa Petani 59 Tahun

Keterangan keluarga mengungkapkan, sebelum kasus ini mencuat, korban tinggal bersama orang tuanya di kawasan perumahan di Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan. Namun situasi berubah drastis setelah dugaan kasus tersebut terungkap. Demi keamanan dan pemulihan kondisi psikologis, keluarga memutuskan pindah dan kini menetap di rumah nenek korban di Kota Kendari.

Baca berita lainnya :  Kasus Dugaan Fitnah hingga Pemerasan, Akun “Pantau Kinerja Parimo” Resmi Dipolisikan

Meski telah berada di lingkungan yang lebih aman, kondisi mental korban belum menunjukkan perbaikan signifikan. Ia enggan keluar rumah, memilih mengisolasi diri, dan sulit diajak berkomunikasi, bahkan dengan anggota keluarga terdekat.

VN, tante korban, menyebut kondisi keponakannya justru semakin memburuk ketika tidak dalam pengawasan. Gejala trauma terlihat jelas, mulai dari ketakutan berlebihan hingga tindakan menyakiti diri sendiri.

Baca berita lainnya :  Baru Bebas, Kembali Beraksi: Residivis Curanmor Ditangkap Tanpa Perlawanan

“Kondisinya semakin memprihatinkan. Dia mengalami depresi berat, sering mencakar tubuhnya sendiri dan menangis histeris karena ketakutan,” ungkap VN, Minggu (03/05).

Kasus ini menyoroti pentingnya penanganan serius terhadap korban, tidak hanya dari aspek hukum, tetapi juga pemulihan psikologis jangka panjang. Perlindungan anak dan pendampingan trauma menjadi kebutuhan mendesak agar korban dapat kembali pulih dan menjalani kehidupan secara normal.

Total Views: 113
Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *