Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Parenting Anak

Bunda PAUD Parimo: Gizi, Kasih Sayang, dan Peran Ayah Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak

×

Bunda PAUD Parimo: Gizi, Kasih Sayang, dan Peran Ayah Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak

Sebarkan artikel ini
Bunda PAUD Kabupaten Parigi Moutong, Hj. Hestiwaty Nanga. (Foto: Wawa)

Parimo,Updatesulawesi.id – Bunda PAUD Kabupaten Parigi Moutong, Hj. Hestiwaty Nanga, mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi sangat bergantung pada peran orang tua di rumah—terutama dalam menjaga gizi, emosi, dan pola pengasuhan.

Pesan itu disampaikannya dalam seminar parenting di Parigi, yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Pendidikan Nasional 2026. Di hadapan para orang tua dan guru PAUD, Hestiwaty menegaskan bahwa anak membutuhkan pendekatan yang utuh: bukan hanya belajar, tetapi juga perhatian, kasih sayang, dan asupan gizi seimbang.

“Anak tidak cukup hanya disekolahkan. Mereka butuh sentuhan emosional, pola asuh yang tepat, dan makanan bergizi agar tumbuh optimal,” tegasnya.

Ia secara khusus menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang masih mengandalkan makanan instan dalam keseharian anak. Menurutnya, pola makan seperti itu dapat berdampak langsung pada konsentrasi dan perilaku anak di sekolah.

“Saya pernah membandingkan sendiri. Anak yang terlalu sering makan instan cenderung mudah mengantuk dan kurang fokus. Ini harus jadi perhatian serius,” ujarnya.

Sebagai solusi, ia mendorong pemanfaatan sumber pangan lokal yang mudah dijangkau namun kaya gizi, seperti ikan kembung (katombo) yang dinilai memiliki kandungan protein tinggi dan sangat baik untuk perkembangan otak anak.

“Gizi seimbang tidak harus mahal. Ikan lokal, tempe, tahu, sayur, itu sudah cukup jika diolah dengan baik. Yang penting konsisten,” jelasnya.

Tak hanya soal makanan, Hestiwaty juga menekankan pentingnya keterlibatan emosional orang tua—termasuk peran ayah yang kerap terabaikan dalam pengasuhan anak.

Menurutnya, interaksi sederhana seperti memeluk anak, berbicara dengan lembut, hingga meluangkan waktu bersama memiliki dampak besar terhadap perkembangan psikologis anak.

“Anak-anak butuh kedekatan. Bahkan ada anjuran, anak sebaiknya dipeluk berkali-kali dalam sehari. Itu bukan hal sepele, tapi kebutuhan emosional mereka,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa di era digital saat ini, tantangan pengasuhan semakin kompleks. Penggunaan gawai harus diawasi ketat agar tidak menggantikan peran orang tua dalam mendidik dan membentuk karakter anak.

“Jangan sampai handphone mengambil alih peran kita. Orang tua harus tetap hadir, membimbing, dan mengontrol,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Hestiwaty berharap para orang tua dapat lebih sadar dan bijak dalam mendampingi anak, karena masa usia dini merupakan fase emas yang menentukan masa depan mereka.

“Kalau kita salah di awal, dampaknya bisa panjang. Tapi kalau kita tepat, insyaallah anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” pungkasnya.

Total Views: 10
Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *