Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Olahraga

Ketua PBSI Sulteng: Sponsorship dan Pembinaan Berkelanjutan Kunci Prestasi Daerah

×

Ketua PBSI Sulteng: Sponsorship dan Pembinaan Berkelanjutan Kunci Prestasi Daerah

Sebarkan artikel ini
Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Sulawesi Tengah, Gufron Ahmad. (Foto: Tim Media Partner)

Parimo, Updatesulawesi.id – Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Sulawesi Tengah, Gufron Ahmad, memberikan apresiasi atas pelantikan kepengurusan PBSI Kabupaten Parigi Moutong periode terbaru yang digelar pada Kamis (16/07).

Ia berharap kepengurusan di bawah komando Abdul Gafur mampu menjadi motor penggerak kemajuan bulu tangkis di Parigi Moutong sekaligus menjadi contoh bagi kabupaten lainnya di Sulawesi Tengah.

Dalam sambutannya, Gufron menyebut pelantikan tersebut merupakan momentum penting untuk membangun organisasi yang sehat, profesional, dan berorientasi pada prestasi.

“Kami memberikan apresiasi yang luar biasa kepada PBSI Kabupaten Parigi Moutong. Mudah-mudahan pelantikan ini bukan menjadi yang pertama sekaligus terakhir, tetapi menjadi awal lahirnya organisasi yang semakin kuat dan mampu mencetak prestasi,” ujarnya.

Menurutnya, langkah awal yang dilakukan kepengurusan baru sudah berada di jalur yang tepat, terutama dengan menjadikan tata kelola organisasi sebagai prioritas utama.

“Organisasi yang baik akan melahirkan pembinaan yang baik. Kalau tata kelolanya sehat, saya yakin prestasi juga akan mengikuti,” katanya.

Selain pembenahan organisasi, Gufron menilai pembinaan atlet usia dini menjadi tantangan terbesar yang harus dijawab seluruh pengurus PBSI di Sulawesi Tengah. Ia mengakui hingga saat ini jumlah atlet potensial dari daerah masih belum memadai sehingga perlu dilakukan pembinaan secara berkelanjutan.

“Kita masih kekurangan atlet-atlet muda. Karena itu, pembinaan sejak usia dini harus menjadi fokus utama. Jangan sampai kita terus bergantung pada atlet dari luar daerah,” tegasnya.

Baca berita lainnya :  Bupati Parigi Moutong Buka Futsal Pelajar 2026, Tekankan Pendidikan Karakter dan Gaya Hidup Sehat

Meski demikian, ia menilai keberadaan satu atau dua atlet dari luar daerah masih dapat dimanfaatkan sebagai pemicu semangat dan transfer pengalaman bagi atlet lokal, selama tidak menjadi ketergantungan.

“Yang utama tetap membangun atlet daerah. Pembinaan memang membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Namun hasilnya akan jauh lebih membanggakan karena lahir dari putra-putri daerah sendiri,” katanya.

Gufron juga mengingatkan bahwa menjadi pengurus olahraga merupakan bentuk pengabdian yang tidak diukur dari besarnya materi yang diterima.

“Di dunia olahraga ini tidak ada yang digaji. Kita mengorbankan waktu, tenaga, bahkan pikiran. Karena itu saya selalu mengatakan, kita semua adalah pahlawan olahraga. Semoga pengabdian ini menjadi amal kebaikan bagi kita semua,” ujarnya.

Dalam upaya meningkatkan prestasi bulu tangkis di Sulawesi Tengah, Gufron menjelaskan bahwa PBSI Provinsi terus melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya adalah mengelola Gedung Olahraga Bulu Tangkis Siranindi di Kota Palu sebagai pusat pembinaan atlet.

Selain itu, pihaknya juga tengah mengupayakan hadirnya mitra atau satelit PB Djarum di Sulawesi Tengah sehingga para atlet berbakat tidak lagi harus pergi ke Pulau Jawa untuk mendapatkan pembinaan berkualitas.

“Harapan kami, anak-anak Sulawesi Tengah cukup dibina di Palu. Dengan hadirnya mitra PB Djarum, proses pembinaan atlet akan semakin baik dan peluang melahirkan pemain nasional semakin besar,” jelasnya.

Baca berita lainnya :  Turnamen Biliar HUT Parimo 2026 Resmi Ditutup, Dorong Sportivitas dan Lahirkan Atlet Potensial

Menjelang Porprov Sulawesi Tengah 2026 di Kabupaten Morowali, Gufron berharap PBSI Parigi Moutong mampu memaksimalkan potensi atlet yang dimiliki dengan mengaktifkan kembali klub-klub bulu tangkis sebagai basis pembinaan.

Ia juga mengingatkan pentingnya seluruh atlet terdaftar dalam Sistem Informasi PBSI (SI PBSI). Menurutnya, sistem administrasi PBSI kini telah berjalan secara digital dan profesional sehingga seluruh data atlet harus valid.

“Sekarang semua sudah berbasis sistem. Mulai dari identitas atlet, usia, hingga administrasi pertandingan semuanya terintegrasi. Tidak ada lagi praktik manipulasi umur ataupun data seperti dulu karena semuanya diawasi secara ketat oleh PBSI Pusat,” tegasnya.

Gufron meminta PBSI Parigi Moutong turut mendukung program pembinaan atlet tingkat provinsi. Ia menjelaskan bahwa atlet yang mengikuti pemusatan latihan akan dievaluasi secara berkala dan dapat didegradasi apabila tidak menunjukkan perkembangan.

“Kami ingin pembinaan berjalan objektif. Atlet yang berprestasi akan terus dipertahankan, sementara yang tidak berkembang akan diganti dengan atlet lain yang lebih siap,” katanya.

Tak hanya pembinaan atlet, Gufron juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik pelatih maupun wasit. Ia mengungkapkan bahwa pada September mendatang PBSI Sulawesi Tengah akan menggelar Musyawarah Kerja Provinsi (Mukerprov) yang dirangkaikan dengan Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) serta pelatihan pelatih dan wasit.

Menurutnya, Sulawesi Tengah telah dua kali menyelenggarakan pelatihan pelatih bersertifikat BWF Level 1, bahkan sejumlah pelatih asal daerah kini dipercaya melatih di luar negeri, termasuk di Tiongkok, dan Kazakhstan.

Baca berita lainnya :  Solidaritas dan Sportivitas, IPF Parigi dan Pasangkayu Gelar Latihan Bersama

“Sayangnya, respons dari beberapa kabupaten masih minim. Kami berharap Parigi Moutong bisa mengirimkan lebih banyak pelatih untuk mengikuti sertifikasi BWF agar kualitas pembinaan semakin meningkat,” ujarnya.

Di bidang perwasitan, Gufron menyebut Sulawesi Tengah kini memiliki sekitar delapan wasit nasional berkualifikasi B yang beberapa di antaranya telah dipercaya bertugas pada ajang bergengsi seperti Indonesia Open dan Indonesia Masters.

Ia berharap Parigi Moutong juga mulai menyiapkan kader-kader wasit nasional, termasuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal mengikuti pertandingan internasional.

“Penguasaan bahasa Inggris sangat penting bagi wasit maupun pelatih karena dunia bulu tangkis sudah bertaraf internasional. Kompetensi teknis harus diimbangi dengan kemampuan komunikasi,” katanya.

Menutup sambutannya, Gufron mengajak pemerintah daerah, KONI, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendukung pembinaan bulu tangkis di Parigi Moutong.

Menurutnya, keberhasilan pembinaan olahraga tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dengan sektor swasta melalui program sponsorship.

“Jangan hanya bergantung pada pemerintah. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran saat ini, kita harus membangun kolaborasi dengan dunia usaha. Sponsorship menjadi salah satu kunci agar pembinaan atlet dapat berjalan secara berkesinambungan dan melahirkan prestasi yang membanggakan bagi daerah,” pungkasnya.

Total Views: 13
Example 728x90
Penulis: NurfitaEditor: Dwi Bintang Dermawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *