Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Seni dan Budaya

Oni Ni Polentora, Karya Musik Tradisional Siswa SD Inpres 2 Bantaya yang Lahir dari Keterbatasan

×

Oni Ni Polentora, Karya Musik Tradisional Siswa SD Inpres 2 Bantaya yang Lahir dari Keterbatasan

Sebarkan artikel ini
siswa-siswi SD Inpres 2 Bantaya itu ditampilkan dalam Gelar Karya GSMS dan Festival Budaya Gampiri 2026 di Alun-alun Kantor Bupati Parigi Moutong, Senin malam (2/11/2026). (Foto: Iwan Sukri)

Parimo, Updatesulawesi.id – Keterbatasan fasilitas alat musik tradisional di sekolah tidak menyurutkan kreativitas siswa SD Inpres 2 Bantaya, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Justru dari keterbatasan tersebut lahir sebuah karya musik tradisional kreasi berjudul Oni Ni Polentora atau “Bunyi yang Dirindukan”.

Karya tersebut merupakan hasil pendampingan seniman Mohammad Ridwan Sukri melalui Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong.

Karya musik yang melibatkan siswa-siswi SD Inpres 2 Bantaya itu ditampilkan dalam Gelar Karya GSMS dan Festival Budaya Gampiri 2026 di Alun-alun Kantor Bupati Parigi Moutong, Senin malam (2/11/2026).

Dalam penampilannya, Oni Ni Polentora memadukan permainan alat musik tradisional rebana, gimba, dan kakula dengan nyanyian anak-anak. Perpaduan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali bunyi dan kekayaan musik tradisional kepada generasi muda.

Mohammad Ridwan Sukri, yang akrab disapa Iwan, menjelaskan bahwa karya tersebut berangkat dari keprihatinannya terhadap minimnya ketersediaan alat musik tradisional di lingkungan sekolah.

Baca berita lainnya :  Generasi Muda Parigi Moutong Dinilai Mulai Jauh dari Budaya Lokal

Kondisi itu membuat sebagian siswa, khususnya kelas IV dan V, semakin jarang berinteraksi langsung dengan alat musik tradisional, bahkan tidak lagi akrab dengan bunyi-bunyi kesenian daerah.

“Keterbatasan alat musik tradisional di sekolah menjadi salah satu faktor. Makanya, mereka (anak-anak) tidak pernah lagi mendengar bunyi-bunyi tradisi,” ujar Ridwan saat ditemui usai pementasan.

Menurutnya, pengenalan musik tradisional tidak cukup hanya melalui teori, tetapi perlu disertai praktik langsung agar anak-anak dapat mengenal bunyi, cara memainkan alat musik, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Melalui proses pembelajaran tersebut, ia berharap tumbuh ketertarikan dan kecintaan siswa terhadap seni musik tradisional. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan ini juga diharapkan membuka ruang bagi munculnya bakat-bakat baru di bidang seni sejak usia sekolah.

“Saya berharap melalui karya ini, anak-anak semakin mencintai dan tertarik memainkan alat musik tradisional. Dengan begitu, mereka dapat mengenal dan melestarikan seni budaya daerah sekaligus mengembangkan potensi serta melahirkan bakat-bakat baru di bidang seni musik di lingkungan sekolah,” katanya.

Baca berita lainnya :  Disdikbud Parigi Moutong Andalkan Film dan Seniman Lokal Kenalkan Budaya Daerah ke Pelajar

Dalam proses penggarapan karya Oni Ni Polentora, Ridwan didampingi asisten seniman, Veri Mirwansya.

Sementara itu, Kepala SD Inpres 2 Bantaya, Yenni Trisna, S.Pd., mengatakan pihak sekolah berupaya memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran seni musik tradisional meskipun masih menghadapi keterbatasan fasilitas.

Untuk menunjang kegiatan tersebut, pihak sekolah bahkan harus menyewa alat musik dari salah satu sanggar seni di Parigi.

“Iya, kami berusaha memfasilitasi seniman dalam mengajar, walaupun kami hanya menyewa alat itu,” ungkap Yenni.

Ia mengaku bangga melihat penampilan para siswa yang mampu menunjukkan keberanian, kreativitas, dan potensi seni setelah mengikuti proses pendampingan dari seniman pengajar.

Menurutnya, keterlibatan siswa dalam kegiatan tersebut memberikan pengalaman sekaligus ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri melalui seni.

“Saya sangat bangga dan mengapresiasi tinggi penampilan seni musik dari siswa-siswi SD Inpres 2 Bantaya. Anak-anak mampu menunjukkan bakat, keberanian, dan kreativitas yang luar biasa. Itu semua berkat bimbingan intensif dari seniman pengajar yang luar biasa,” ujarnya.

Baca berita lainnya :  Di Tengah Era Digital, Perpustakaan Parimo Hidupkan Kembali Budaya Bertutur

Yenni berharap Program GSMS dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang agar semakin banyak peserta didik mendapatkan kesempatan belajar, berekspresi, dan mengembangkan bakat melalui pendampingan seniman profesional.

Selain keberlanjutan program, ia juga berharap pemerintah dapat memberikan bantuan alat musik tradisional kepada SD Inpres 2 Bantaya.

Menurutnya, ketersediaan alat musik di sekolah sangat dibutuhkan agar pembelajaran seni tidak hanya berlangsung selama program GSMS, tetapi juga dapat dilanjutkan secara mandiri melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Keterbatasan fasilitas yang dihadapi SD Inpres 2 Bantaya menjadi gambaran bahwa upaya pelestarian budaya di lingkungan pendidikan membutuhkan dukungan berkelanjutan. Sebab, mengenalkan seni tradisional kepada generasi muda tidak cukup hanya melalui kegiatan pertunjukan, tetapi juga harus didukung ketersediaan sarana dan kesempatan belajar secara berkesinambungan.

Total Views: 19
Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *