Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
PendidikanSeni dan Budaya

GAMPIRI 2026 Jadi Wadah Seniman dan Komunitas Budaya Parigi Moutong

×

GAMPIRI 2026 Jadi Wadah Seniman dan Komunitas Budaya Parigi Moutong

Sebarkan artikel ini
Kepala seksi nilai Budaya dan Tradisi, Moj Taufan, S.Pd. (Foto: Abin)

Parimo, Updatesulawesi.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong tengah mematangkan pelaksanaan Festival GAMPIRI (Gelar Budaya Masyarakat Parigi Moutong) sebagai ajang pelestarian sekaligus pengembangan budaya lokal yang inklusif dan edukatif.

Pamong Budaya Disdikbud Parigi Moutong, Muhammad Taufan, menjelaskan bahwa festival ini awalnya dijadwalkan pada triwulan IV tahun 2026, tepatnya Oktober.

Namun, rencana untuk menggabungkannya dengan Festival Teluk Tomini akhirnya dibatalkan agar GAMPIRI dapat berdiri sendiri dan lebih fokus dalam mengangkat potensi budaya daerah.

“Awalnya sempat direncanakan digabung dengan Festival Teluk Tomini, tetapi setelah dipertimbangkan, kami putuskan untuk digeser agar pelaksanaannya lebih maksimal dan tidak kehilangan identitas,” ujarnya, Selasa (21/04).

Baca berita lainnya :  Disdikbud Parigi Moutong Siapkan Implementasi Program Sekolah Aman Bencana

Festival GAMPIRI dirancang sebagai ruang ekspresi terbuka bagi berbagai komunitas seni dan budaya di Parigi Moutong. Kegiatan ini juga terintegrasi dengan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), yang bertujuan menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya sejak dini.

“Peserta didik dari jenjang SD dan SMP yang selama ini mendapatkan pembinaan melalui GSMS akan tampil. Mulai dari seni pertunjukan, fotografi, hingga film. Kami tidak membatasi bentuk ekspresinya,” jelas Taufan.

Lebih dari sekadar pertunjukan, GAMPIRI juga diharapkan menjadi sarana edukasi budaya lintas generasi. Festival ini tidak hanya menampilkan budaya dari empat etnis utama di Parigi Moutong—Kaili, Lauje, Tajio, dan Tialo—tetapi juga membuka ruang bagi keberagaman budaya lain yang hidup di tengah masyarakat.

Baca berita lainnya :  BPMP Sulteng dan Pemkab Parigi Moutong Perkuat Kolaborasi, Fokus Tangani Anak Tidak Sekolah

“Ke depan, kami ingin GAMPIRI berkembang menjadi festival multikultur. Semua komunitas budaya, baik dari Gorontalo, Bali, Jawa, Bugis, maupun lainnya, dapat berpartisipasi,” katanya.

Untuk menghadirkan suasana yang lebih luas dan merakyat, festival direncanakan berlangsung selama dua malam di Alun-Alun Parigi. Lokasi ini dipilih karena dinilai representatif untuk menampung berbagai kegiatan sekaligus menciptakan atmosfer pesta rakyat yang lebih hidup.

“Alun-alun memberikan ruang yang lebih terbuka dan memungkinkan masyarakat terlibat langsung. Ini penting agar festival benar-benar dirasakan sebagai milik bersama,” ujarnya.

Selain pertunjukan seni, panitia juga menyiapkan pameran budaya yang menampilkan artefak, dokumentasi sejarah, serta berbagai warisan budaya lokal. Pameran ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran yang memperkaya wawasan masyarakat tentang sejarah dan identitas daerah.

Baca berita lainnya :  Dari Keresahan Jadi Gerakan: Upaya Mencetak Jurnalis Muda di Tengah Serbuan Hoaks

“Kami ingin ke depan GAMPIRI menjadi semacam pusat dokumentasi budaya, tempat masyarakat bisa melihat dan belajar tentang sejarah daerahnya,” tambahnya.

Tak kalah menarik, festival ini juga akan menghadirkan olahraga tradisional sebagai bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal. Salah satunya adalah lomba menyumpit yang akan dibagi dalam kategori anak-anak dan dewasa.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan tradisi tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda, tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya,” tutup Taufan.

Total Views: 56
Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *