Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pmerintah Daerah

Bupati Parimo Dorong PGRI Rumuskan Strategi Cegah Narkoba dan Adaptasi AI

×

Bupati Parimo Dorong PGRI Rumuskan Strategi Cegah Narkoba dan Adaptasi AI

Sebarkan artikel ini
(Foto: Iwan)

Parimo, Updatesulawesi.id – Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, meminta Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tidak hanya menjadi wadah konsolidasi organisasi, tetapi turut merumuskan strategi menghadapi tantangan pendidikan dan persoalan sosial yang mengancam generasi muda.

Hal itu disampaikan Erwin saat membuka Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) I PGRI Kabupaten Parigi Moutong masa bakti 2025–2030 di Hotel Ludya, Sabtu (5/9/2026).

Erwin mengatakan, konferensi kerja menjadi momentum penting bagi PGRI untuk melakukan evaluasi program sekaligus menyusun langkah strategis organisasi ke depan.

Ia berharap hasil konferensi tidak berhenti sebagai keputusan internal organisasi, tetapi menghasilkan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada pemerintah daerah untuk dibahas dan ditindaklanjuti bersama.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian serius Erwin adalah penyalahgunaan narkoba yang dinilainya dapat mengancam masa depan generasi muda di Parigi Moutong.

Menurut dia, upaya mencegah peredaran narkoba tidak dapat dilakukan oleh pemerintah maupun aparat penegak hukum secara sendiri. Sekolah, guru, keluarga dan masyarakat perlu terlibat dalam membangun sistem pencegahan yang lebih kuat.

“Langkah-langkah untuk menjaga anak-anak kita jangan sampai terjerumus narkoba ini sangat penting. Coba dirumuskan poin-poin pentingnya dan nanti disampaikan kepada kami pemerintah daerah untuk kita bicarakan bersama,” ujar Erwin.

Ia mengungkapkan, Parigi Moutong menghadapi tantangan serius terkait peredaran narkoba. Bahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, anak-anak disebut telah mulai dilibatkan sebagai kurir.

Baca berita lainnya :  Hardiknas 2026 di Parigi Moutong: Bupati Pimpin Upacara, Apresiasi Guru Pelosok hingga Launching SPMB

Erwin menilai kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh pihak karena narkoba tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum, tetapi juga dapat merusak kualitas sumber daya manusia.

“Ini tentu berbahaya, bisa mengganggu kualitas dan tentunya merusak generasi muda, khususnya kita di Parigi Moutong,” katanya.

Selain narkoba, Erwin mendorong PGRI membahas tantangan pendidikan di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Kehadiran berbagai platform berbasis kecerdasan buatan, seperti ChatGPT dan Gemini, membuat akses siswa terhadap informasi semakin luas.

Karena itu, guru dituntut terus meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal dibandingkan peserta didik yang mereka ajar.

“Guru-guru kita juga harus selalu beriringan dengan teknologi yang ada sekarang agar kita tidak dianggap ketinggalan oleh anak-anak murid kita,” ujarnya.

Erwin menegaskan, guru tetap memiliki posisi penting sebagai pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia, meskipun perkembangan teknologi telah mengubah pola belajar anak.

Ia mengatakan, pendidikan karakter juga harus tetap menjadi perhatian. Menurutnya, pola pendidikan yang menanamkan disiplin dan ketegasan perlu dipertahankan, namun harus disesuaikan dengan tantangan generasi saat ini.

Baca berita lainnya :  Sekda Zulfinasran: 19 Jabatan Kosong di Parigi Moutong Akhirnya Dibuka Setelah Tiga Tahun

Erwin juga mengingatkan orang tua agar lebih memperhatikan penggunaan gawai oleh anak. Menurutnya, konsumsi konten digital yang tidak terkontrol dapat memengaruhi tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak.

Di sisi lain, Erwin menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan di Parigi Moutong.

Ia mengungkapkan, pada 2026 terdapat 97 sekolah di Parigi Moutong yang mendapatkan program revitalisasi. Jumlah tersebut meningkat signifikan dari alokasi awal yang hanya mencakup tujuh sekolah.

Menurut Erwin, tambahan tersebut diperoleh setelah pemerintah daerah melakukan komunikasi dan lobi dengan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Pendidikan.

“Kita awalnya hanya diberikan tujuh. Kita melakukan lobby, bertemu Pak Menteri dan intens melakukan lobby untuk meyakinkan bahwa Parigi Moutong merupakan daerah yang luas, sekolah-sekolah kita banyak berada di lokasi 3T dan sudah sangat ketinggalan,” jelasnya.

Ia mengatakan, kondisi sejumlah sekolah yang berada di wilayah terpencil menjadi salah satu alasan pemerintah daerah terus memperjuangkan tambahan dukungan dari pemerintah pusat.

Erwin menyebut, setelah mendapatkan tambahan hingga 70 sekolah, pemerintah daerah kembali melakukan lobi hingga jumlah sekolah yang mendapatkan revitalisasi mencapai 97.

Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk DPRD dan Dinas Pendidikan, dalam memperjuangkan peningkatan fasilitas pendidikan tersebut.

Baca berita lainnya :  Jawab Pandangan Fraksi DPRD, Bupati Erwin Burase Tegaskan Fokus KUA-PPAS 2027 pada Infrastruktur, PAD, dan Pelayanan Publik

Tak hanya sarana sekolah, Erwin juga memastikan pemerintah daerah tengah menyiapkan perhatian khusus bagi guru yang bertugas di wilayah terpencil.

Program tersebut mencakup penyediaan fasilitas rumah, kendaraan dinas hingga peningkatan insentif bagi guru yang mengabdi di daerah terpencil.

Menurut Erwin, persoalan tempat tinggal menjadi salah satu kendala yang perlu mendapatkan solusi. Guru yang bertugas jauh dari pusat pemerintahan kerap menghadapi tantangan akses dan mobilitas.

“Kita akan memberikan bantuan fasilitas rumah, kendaraan dinas dan juga peningkatan insentif bagi guru di daerah-daerah terpencil,” katanya.

Ia berharap program tersebut mulai terlihat dalam perubahan anggaran maupun pelaksanaan program 2027.

Erwin menegaskan, pemerintah daerah ingin memastikan guru yang berada di wilayah terpencil tetap mendapatkan dukungan yang layak sehingga dapat menjalankan tugas pendidikan secara optimal.

Menutup sambutannya, Erwin berharap Konkerkab I PGRI Parigi Moutong dapat menghasilkan keputusan yang demokratis, penuh kekeluargaan dan berorientasi pada kemajuan organisasi serta dunia pendidikan.

Ia juga mendorong hasil konferensi dapat menjadi pijakan untuk memperkuat kolaborasi antara PGRI dan pemerintah daerah dalam menghadapi tantangan pendidikan, termasuk perkembangan teknologi, penguatan karakter anak serta ancaman narkoba yang semakin kompleks.

Total Views: 220
Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *