
Parimo, Updatesulawesi.id – Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah bersama Dinas Sosial Kabupaten Parigi Moutong merekrut 30 personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) angkatan 2026. Perekrutan tersebut dirangkaikan dengan pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) di Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong.
Sebanyak 30 peserta yang direkrut tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga melibatkan unsur pecinta alam, organisasi kemasyarakatan (ormas), serta aparatur pemerintah.
Sejumlah pejabat turut mengikuti seluruh tahapan pelatihan, mulai dari pembekalan hingga pembaretan dan prosesi Abdi Negeri. Di antaranya Camat Torue, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Sekretaris Dinas Sosial, serta Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos).
Keterlibatan aparatur pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pelatihan Tagana tidak hanya berorientasi pada pembentukan relawan, tetapi juga memperkuat pemahaman lintas sektor dalam menghadapi situasi kebencanaan.
Selama pelatihan, para peserta dibekali lima kecakapan dasar Tagana, yakni evakuasi, manajemen posko, Dapur Umum Lapangan (Dumlap), Layanan Dukungan Psikososial (LDP), serta pengelolaan logistik bencana.
Kelima kemampuan tersebut menjadi bekal bagi personel Tagana untuk membantu penanganan bencana, mulai dari tahap tanggap darurat hingga pemulihan.
Koordinator Tagana Kabupaten Parigi Moutong, Irwan Basri, mengatakan perekrutan personel baru dilakukan untuk menjawab keterbatasan jumlah Tagana aktif di daerah.
Menurutnya, sejumlah personel Tagana yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dan memiliki pengalaman di lapangan kini telah diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan bertugas di berbagai instansi.
“Perekrutan Tagana angkatan 2026 ini dilakukan karena kita memang membutuhkan tambahan personel. Jumlah Tagana yang aktif saat ini sudah sangat terbatas, sementara sebagian personel yang sebelumnya terlatih telah menjadi PPPK dan bertugas di instansi lain,” kata Irwan, Senin (24/8/2026).
Ia mengatakan, perpindahan sejumlah personel Tagana menjadi PPPK tidak berarti menghilangkan kepedulian mereka terhadap kegiatan sosial dan kebencanaan. Namun, tugas kedinasan di instansi masing-masing membuat mobilisasi mereka dalam kegiatan Tagana menjadi lebih terbatas.
“Mereka tetap memiliki semangat dan pengalaman dalam penanggulangan bencana. Hanya saja, setelah memiliki tugas dan tanggung jawab pada instansi masing-masing, tentu ada keterbatasan ketika harus digerakkan dalam kegiatan Tagana. Karena itu, kita harus menyiapkan kader-kader baru,” ujarnya.
Irwan menegaskan, penambahan 30 personel tersebut tidak sekadar mengejar jumlah anggota. Peserta diharapkan memiliki kompetensi dan kesiapsiagaan yang memadai ketika menghadapi kondisi darurat.
Karena itu, pelatihan juga diarahkan pada penguatan kemampuan teknis, kedisiplinan, kerja sama tim, kepemimpinan lapangan, serta karakter kerelawanan.
“Kita tidak ingin hanya mengejar jumlah. Yang paling penting adalah membentuk personel yang memiliki kompetensi, kesiapsiagaan dan kepedulian. Tagana harus hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, terutama dalam situasi darurat,” katanya.
KSB Torue Jadi Benteng Kesiapsiagaan MasyarakatSelain merekrut personel Tagana, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pembentukan KSB Kecamatan Torue. Program ini diarahkan untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana berbasis masyarakat.
Melalui KSB, masyarakat diharapkan mampu mengenali potensi ancaman bencana di wilayahnya, melakukan mitigasi, membangun kesiapsiagaan, membantu evakuasi, hingga memberikan dukungan kepada kelompok rentan saat terjadi bencana.
Menurut Irwan, keberadaan KSB dan Tagana harus berjalan beriringan. Tagana memiliki kapasitas dan pengalaman dalam penanganan bencana, sedangkan KSB menjadi kekuatan masyarakat di tingkat desa.
“KSB dan Tagana harus saling memperkuat. Tagana memiliki kapasitas dan pengalaman dalam penanganan bencana, sedangkan KSB menjadi kekuatan masyarakat di tingkat desa. Kalau keduanya berjalan bersama, respons terhadap bencana akan lebih cepat dan terkoordinasi,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran Tagana angkatan 2026 dan terbentuknya KSB Kecamatan Torue dapat memperkuat jejaring relawan kebencanaan di Kabupaten Parigi Moutong.Menurutnya, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi karena bencana dapat datang sewaktu-waktu.
“Harapan kita, Tagana angkatan 2026 ini dapat menjadi generasi penerus yang siap membantu masyarakat. Bencana tidak mengenal waktu, sehingga kesiapan personel dan masyarakat juga harus dibangun setiap saat. Inilah semangat Tagana, hadir untuk membantu dan peduli kepada sesama,” pungkasnya.
















