Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

HUT ke-24 Parigi Moutong Menuai Polemik, Guru dan PGRI Tak Diundang

×

HUT ke-24 Parigi Moutong Menuai Polemik, Guru dan PGRI Tak Diundang

Sebarkan artikel ini
(Foto: AI Genarated)

Parimo, Updatesulawesi.id — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Parigi Moutong yang berlangsung meriah justru menyisakan kekecewaan di kalangan tenaga pendidik. Sejumlah guru hingga Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Parigi Moutong dilaporkan tidak menerima undangan resmi pada momentum penting tersebut.

Kekecewaan ini mencuat setelah beberapa guru mengaku telah bersiap mengikuti rangkaian kegiatan. Mereka bahkan telah menyiapkan pakaian khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap hari jadi daerah. Namun hingga hari pelaksanaan, undangan yang dinantikan tak kunjung diterima.

“Kami sudah siap, tapi undangan tidak datang. Rasanya sangat kecewa,” ujar seorang guru yang enggan disebutkan namanya.

Baca berita lainnya :  Janji Kerja ke Jepang Berujung Polemik, Peserta Sebut Program Tak Sesuai Komitmen

Sebagian guru yang tetap hadir di lokasi kegiatan pun memilih hanya mendampingi siswa yang tampil, tanpa menempati kursi undangan. Mereka mengaku tidak berani mengambil tempat karena tidak memiliki undangan resmi, terlebih kursi telah diberi label nama tamu tertentu.

“Kami tidak berani duduk karena tidak diundang. Jadi hanya mendampingi anak-anak dari pinggir,” ungkap guru lainnya.

Situasi ini semakin disorot karena juga dialami oleh Ketua PGRI Kabupaten Parigi Moutong, yang seharusnya menjadi representasi resmi para guru. Tidak diundangnya pimpinan organisasi profesi tersebut dinilai sebagai bentuk kurangnya penghargaan terhadap peran strategis dunia pendidikan di daerah.

Baca berita lainnya :  Perang Lawan Miras! Polres Parimo Musnahkan Ratusan Liter Cap Tikus dan Puluhan Botol Bir

Tak hanya kalangan guru, sejumlah pegawai yang kini berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi juga mengaku tidak lagi dilibatkan dalam perayaan HUT kabupaten sejak adanya pengalihan kewenangan.

“Sejak kami pindah ke provinsi, setiap HUT kabupaten tidak pernah diundang lagi,” kata salah satu pegawai.

Kondisi ini memicu sorotan dari berbagai pihak terkait pentingnya penyelenggaraan perayaan yang inklusif dan merangkul seluruh elemen masyarakat. Momentum hari jadi daerah semestinya menjadi ajang mempererat kebersamaan, bukan justru menimbulkan rasa keterpinggiran.

Baca berita lainnya :  Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

Para guru dan tenaga kependidikan berharap ke depan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dapat lebih terbuka dan adil dalam melibatkan seluruh unsur masyarakat, khususnya mereka yang selama ini berperan besar dalam mencerdaskan generasi daerah.

“Harapan kami, kabupaten ini milik semua masyarakat Parigi Moutong, bukan hanya segelintir orang,” tutup salah satu guru.

Total Views: 40
Example 728x90
Editor: Bintang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *